Tsunami Kedua.
Tsunami kedua. Ya itulah cara saya menamakan bencanatsunami di pantai selatan Jawa yang menelan korban lebih dari 200 orang itu.Bencana tsunami kedua yang saya tahu kejadiannya selama saya hidup sampaisekarang setelah tsunami di Aceh. Tsunami kedua ini baru saja terjadi dalamminggu ini. Tepatnya tanggal 17 Juli 2006 waktu agak sore kira-kira pukul 5lebih. Entah mengapa, saya tidak merasakan getaran yang katanya teman-teman sayayang berada di Jakarta pula ada yang merasakannya. Lalu pada gempa yang terjadimendekati pukul 6 sore tanggal 19 Juli 06 ini, saya juga tidak merasakannya.Yang saya dengar di berita skala sekitar 6.2 dan terjadi selama 4 detik. Padawaktu itu saya tidak merasakannya mungkin karena sedang bercanda bersama adikatau lagi mau mandi saya agak lupa itu.
Saya pada kesempatan ini pulaingin mengucapkan rasa bela sungkawa kepada para korban bencana di pantaiselatan pulau Jawa itu. Saya tidak sempat mengucapkan rasa bela sungkawa padabencana tsunami di Aceh karena pada waktu itu saya belum membuat blog ini.
Saya turut berdo’a agar arwahpara korban dapat diterima di sisi Allah SWT dan diberi kekuatan pada korbanyang selamat dan keluarga yang ditinggalkan. Di tulisan ini saya ingin mengajakkepada para pengunjung blog ini pada umumnya dan saya sendiri khususnya, untukmeminta ampun yang sebesar-besarnya kepada Tuhan YME. Atas semua kesalahan yangtelah kita lakukan selama ini.
Sering saya mendengar perkataanbaik itu di televisi atau di media elektronik lainnya. “Tuhan, sebenarnya apasalah kami, sehingga Kau timpakan kami semua bencana kepada orang-orang yangtidak berdosa tersebut”. Ketika mendengar perkataan tersebut, saya tertawadalam hati dan agak sedikit intropeksi juga. Mengapa. Itulah kata yang palingtidak masuk akal. Mengapa itu adalah kata yang sepertinya Tuhan itu telah salahmemberikan musibah itu kepada yang menderitanya. Yang padahal saya tahu Tuhan itu maha benar dan tidak dapat salah atau pun dipersalahkan.Sepertinya kata-kata “mengapa kau timpakan musibah ini kepada kami” adalahkata-kata yang menyalahkan Tuhan. Sekali laki saya punya satu pertanyaan, apakahTuhan patut untuk dipersalahkan?.
Lalu untuk “Orang-orang tidakberdosa”. Saya lebih geli lagi mendengar kata-kata itu. Apakah mungkin seorangmanusia biasa selain rasul tentunya tidak mempunyai dosa sedikit pun?. Tidakmungkin kan!. Jadi sepertinya kita telah mempersalahkan Tuhan yang menghabisiatau menumpas orang-orang suci yang tidak memiliki dosa sama sekali. PadahalAllah itu sangat mencintai umatnya yang beriman.
Pernah ada suatu kisah. Suatudaerah yang semua penduduknya senang berbuat maksiat, Mereka musyrik dan tidakada yang menyembah Allah. Tapi ada salah seorang dari pada mereka yang beriman.Ia selalu berzikir mengingat Allah dan berserah diri kepada-Nya. Karena adasalah satu orang yang beriman itu, Azab yang akan ditimpakan Allah pada daerahtersebut dibatalkan karena ada salah satu dari mereka yang masih beriman.
Allah akan selalu dan pastimemberikan yang terbaik bagi hambanya. Jadi tidak boleh sekali-kali kitamempertanyakan atau sampai menyalahkan apa yang telah Allah putuskan kepada kita.Manusia itu memang seharusnya untuk berusaha dan punya rencana, tapi sekali lagihanya Allah lah yang memutuskan segalanya. Jadi yang harus kita lakukan adalahmeminta ampun dan intropeksi apa saja yang telah kita lakukan sehinggabencana-bencana itu menimpa negeri kita ini. Jangan kita menyalahkan orang laintermasuk pemerintah. Ada yang mengatakan karena korupsi lah, pemerintah yangberkuasa bawa sial, atau segala macam komentar non sense lainnya yang terlontardari opini masyarakat. Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki semuakesalahan yang telah terjadi mulai dari diri sendiri. Mulailah semua dari dirisendiri, jika semua orang memulai dari diri sendiri, pasti nanti pada akhirnyasemua manusia di negeri ini akan menjadi lebih baik dan Insyaallah Tuhan akanmembuat negeri kita ini aman dan damai kembali.
Negeri ini memang budaya korupsisudah sangat meraja lela. Jika kita memandang orang lain yang berbuat korupsikemudian kita menganggap hal itu wajar dan kita tidak memperdulikannya, ituberarti kita telah membiarkan suatu kemaksiatan terjadi. Ingat, mulailah daridiri sendiri, lalu ke orang lain. Jika diri kita tidak melakukan hal yangtercela itu, pasti kita dapat dan tidak malu untuk melarang orang lain berbuatkemaksiatan itu. Jika kita melarang orang lain berbuat suatu kesalah dan kitamelakukan kesalahan itu pula, itu sama saja dengan maling teriak maling kan!.
Sekian dulu esei dari saya, sayaakan tulis beberapa tulisan tentang fenomena masyarakat sejauh pengetahuan saya.Akan saya kupas beberapa paradikma menurut sudut pandang saya sendiri.
Saya meminta maaf jika ada pihak-pihak yang merasa kurang nyaman dengantulisan-tulisan saya. Ini semua saya tulis hanya sebagai wawasan bagi masyarakatluas dan saya pada khususnya tentang seluk beluk di balik semua fenomena yangada di masyarakat saat ini.
Regard,
Dimas Prasetyo M.
Editor man of kartunet.com
http://www.kartunet.com

0 Komentar:
Post a Comment