Saturday, October 13, 2007

First Time In University of Indonesia Depok

9 Agustus 2007. Tanggal itu adalah hari dimana Dimas mulai menapakan kaki di Universitas Indonesia Depok. Ia diterima menjadi calon mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2007 melalui jalur test SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Dimas datang di UI didampingi oleh orang tua tercinta. Oleh Bapak yang hanya mengedrop sampai di UI dan selanjutnya ditemani oleh Ibu. Sebagai siswa tunanetra, Dimas harus mendapat pendampingan khusus pula. Pihak dari Yayasan Mitra Netra (yayasan tunanetra di mana Dimas mendapatkan tutorial belajar) membantu dalam hal ini. Pendampingan ini sangat diperlukan karena pihak UI harus mengetahui bahwa Dimas adalah siswa tunanetra dan penjelasannya akan dilakukan oleh pihak Yayasan.

Hal-hal yang dilakukan Dimas beserta pendamping pertama-tama yaitu registrasi ulang di gedung Pusat Pelayanan mahasiswa terpadu, dekat rektorat. Dalam hal ini tentu saja pengisian formulir dibantu oleh pendamping. Lalu, Dimas melakukan pengecekan nomor peserta SPMB. Setelah ada kesesuaian data, Dimas masuk ke gedung dan mulai pengepasan Jaket Kuning yang bersejarah itu. Pada awalnya dicoba dengan ukuran XL, tatapi karena terlalu pas, diputuskan menggunakan Jakun (singkatan dari Jaket Kuning) ukuran XXL. Proses dilanjutkan dengan pengambilan foto dan sidik jari. Di sini foto tidak secara manual. Tetapi sudah menggunakan kamera digital dan langsung muncul hasilnya di layer computer. Sistem pengambilan sidik jari juga sudah dengan computer. Langkah berikutnya yaitu valudasi pembayaran uang administrasi yang total hamper Rp 7.000.000,00. Tapi karena ingin mengajukan keringanan pembayaran, langkah di diskip untuk kemudian meneruskan ke bagian administrasi. Proses terakhir di gedung Pusat Pelayanan terpadu itu adalah pengecekan registrasi data calon mahasiswa. Di sini diberi beberapa berkas yang isinya data rahasia account dan password siakng (Sistem informasi akademis UI). Ini adalah system online yang mengatur kegiatan akademis mahasiswa. Kemudian di sini juga diberi beberapa buku panduan dan PDPT (Pendidikan dasar Perguruan Tinggi). Ini akan dijelaskan kemudian.

Setelah semua proses administrasi selesai, Dimas harus mengikuti test kesehatan di Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM UI). Untuk menuju ke sana, Dimas dan pendamping menggunakan Bikun (Bis Kuning UI). Di dalamnya ada beberapa mahasiswa senior yang mengucapkan selamat datang di Kampus Perjuangan dan menerangkan bahwa ada program beasiswa keringanan uang pangkal. Setelah beberapa menit, Dimas sampai dan masuk ke gedung PKM UI. Ada berbagai test dasar, seperti pengecekan tensi darah, gigi, tinggi badan, berat badan, dan mata. Di test ini, Dimas mendapat status low vision atau penglihatan terbatas. Kemudian yang terakhir adalah ronsen. Ronsen ini dilakukan di bis yang sudah didesign khusus untuk hal ini. Setelah diketahui lebih lanjut, ternyata semua test kesehatan itu hanya untuk data pada saat OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) sejenis Ospek di perguruan tinggi.

Semua proses selesai. Tapi masa ada satu hal tambahan. Ia harus mengurus masalah beasiswa keringanan uang pangkal ke fakultas masing-masing. Jadi dalam hal ini, Dimas harus ke FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Saat itu Bis kuning sangat terbatas yang lewat. Jadi Ia harus berjalan dari rektorat ke FIB. Di sana, Dimas dan pendamping menuju ke gedung sembilan. Banyak sekali berkas-berkas yang harus diisi dan sebagian dibawa pulang untuk diisi di rumah. Selain harus diisi, ada banyak juga persyaratan yang harus dilengkapi.

Setelah dari gedung sembilan FIB, mereka pulang. Harusnya ada Briefing dari senior di stand-stand jurusan. Tapi Dimas tidak ikut sebab harus mengurusi keringanan.

Hari ini sangat panas dan melelahkan. Bertepatan dengan hari Kamis, Dimas seperti biasa melaksanakan ibadah Puasa Sunah Senin-kamis. Beratnya hari yang dijalani memaksa Dimas membatalkan puasanya di Jalan. Pulang ke rumah, Dimas naik kereta KRL dari stasiun UI ke stasiun Lenteng Agung. Sampai jalan di dekat rumah Hujan mulai turun dan mereka sedikit kebasahan. Tapi dalam hati Dimas tetap yakin ini adalah ujian pertama Ia masuk di UI. “Semoga awal yang melelahkan ini menjadi awal keberhasilanku di UI” do’a alumnus SMA Negeri 66 Jakarta Selatan ini

Di kampus perjuangan, kita semua memang harus berjuang di dalamnya. Jalan masih panjang menuju keberhasilan. Tak ada keberhasilan tanpa perjuangan.

Friday, October 12, 2007

Awal Masuk Kampus Perjuangan

Dimas, ramaja berusia 19 tahun tepat pada tanggal 14 Agustus 2007 ini masuk Universitas Indonesia tidak dengan jalan yang mudah. Ia sebelumnya seprti semua siswa kebanyakan harus menempus ujian nasional dan kemudian SPMB pastinya. Tapi ada yang sedikit membedakan dalam teknis pelaksanaan karena Dimas seorang siswa Tunanetra di sekolah Inklusi. Perlu dijelaskan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah umum atau reguler bagi siswa normal. Tapi sekolah ini juga menerima siswa berkebutuhan khusus seperti tunanetra, tunadaksa, tunarungu, dll. Asalkan mereka memenuhi syarat akademis seperti siswa normal lain yang masuk ke sekolah tersebut.

Saat Ujian Nasional.

Ujian nasional ini dijalani Dimas dengan sedikit pengkhususan dari pihak seklah. Pertama, setiap murid Tunanetra diberi khusus satu ruangan untuk ujian.

Sebagai informasi, dalam SMA Negeri 66 Jakarta yang merupakan tempat Dimas bersekolah terdapat 4 murid Tunanetra dan 2 Tunarungu yang sanga angkatan. Untuk murid tunarungu tidak dibedakan kelasnya. Mereka tetap ikut dengan siswa normal di kelas ujian. Hanya pada saat listening ujian bahasa Inggris, mereka diberi teks ujaran dalam listening test.

Lalu dalam satu kelas khusus bagi tunanetra, didampingi oleh dua orang pengawas. Pengawas ini bertugas membacakan soal dan menuliskan jawaban dari siswa ke lembar isian komputer. Pada hari fpertama ujian Bahasa Indonesia. Dimas seharusnya tidak mengalami masalah dalam mata ujian ini. Tapi karena Ia memang tidak terlalu ahli di bidang pelajaran ini, maka psikologisnya agak drop pada saat itu. Lalu hari kedua yaitu ujian mata kuliah Ekonomi. Setelah mengerjakan soalnya, ternyata soal di Ujian nasional ini tidak sesulit seperti waktu empat kali try out. Moral Dimas mulai tinggi kembali pada hari itu. Ia yakin bisa menjawab dengan baik hampir 90 % soal-soalnya. Kemudian hari ketiga yaitu mata kuliah Bahasa Inggris. Pada awalnya Ia agak nervess guga, tapi setelah mengerjakan soalnya dan ternyata tak banyak kata-kata sulit di dalamnya, Ia yakin bisa mengerjakan dengan baik hampir 90% soal-soalnya. Wal hasil, setelah pengumuman nilai Ujian Nasional. Total Dimas mendapatkan nilai 27,10 dari tiga mata pelajara yaitu Bahasa Indonesia 80; IPS Ekonomi 95; dan Bahasa Inggris 96.

Saat SPMB.

Pada saat SPMB pun Dimas melakukannya sama seperti siswa normal pada umumnya tetapi dengan sedikit kekhususan. Untuk pendaftaran menjadi peserta SPMB, Dimas beserta beberapa teman tunanetra yang juga ikut SPMB langsung mendaftar ke UI Salemba. Ia tidak ikut pendaftaran kolektif seprti siswa normal lainnya di sekolah. Alasannya agar pada penempatan test tidak terpencar dan agar lebih mudah diakomodasi. Dengan begitu, Dimas beserta teman tunanetra lainnya ikut test dan ditempatkan di salah satu ruangan khusus di UI Salemba. “Ini langkah awal saya measuk UI” do’a lelaki verbintang Leo itu dalam hati. Pada saat pemilihan jurusan, Dimas memilih Sastra Inggris Ui sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Inggris UIN sebagai pilihan keduanya.

Berbeda dengan pelaksanaan test Ujian nasional yang satu tunanetra diberikan satu ruangan khusus. Saat SPMB, Dimas beserta lima siswa Tunanetra lainnya disatukan menjadi satu ruangan yang cukup besar. Jarak duduk mereka diatur sedmikian mungkin sehingga tidak mengganggu satu sama lain. Satu siswa, tetap diberikan dua orang pengawas. Tugas mereka sama, tetapi jika waktu Ujian Nasional pengawasnya adalah guru-guru dari sekolah lain, untuk kali ini mereka adalah panitia SPMB yang juga merupakan mahasiswa tingkat 3 UI.

Pada pelaksanaan test pertama, judul testnya adalah test bahasa dan kemampuan kuantitatif. Jadi soalnya adalah 25 soal Matermatika, 25 Bahasa Indonesia, dan 25 soal Bahasa Inggris. “hari pertama ini saya seperti hilang feeling dalam menjawab soal”, ujar siswa yang pernah jadi juara lomba mata pelajaran IPA sekecamatan ini. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertama ikut SPMB Dimas merasa seperti itu.

Pada hari kedua, judul testnya adalah IPS terpadu. Jadi soalnya berupa 20 soal Sejarah, 20 soal Ekonomi dan akutansi, 20 Geografi, dan 15 soal IPS terpadu. “Test kali ini saya mulai merasa bisa lulus lagi SPMB setelah sangat tidak yakin di hari kedua” tegas siswa yang pernah juga jadi juara kedua lomba pidato bahasa Inggris di SMP-nya ini. Hari kedua ini Dimas sudah mulai agak tenang dalam mengerjakan soal. Dia mengatakan bahwa mulai bisa menggunakan strategi dalam menjawab. Mulai kerjakan soal dari pertama, jika ada keyakinan lebih dari 70% dalam satu soal, maka Ia akan menjawabnya. Tapi jika kurang dari 50%, akan dilewati duu dan beralih ke soal yang lainnya. Prinsipnya adalah sebisa mungkin jawab semua pertanyaan jangan ada yang dilewati atau kosong. “Lebih baik kehilangan satu point dari pada tidak mendapatkan empat point jika benar” ujar pemuda yang kedua orang tuanya asli Wonogiri ini. Prinsip ini bukan tanpa dasar. Ia tahu bahwa jika ingin masuk UI apa lagi sastra Inggris yang Passing Gradenya sangat tinggi, hal tersebut harus ditaruhkan. “Saya tak tahu lagi bagaimana nanti jika harus masuk ke Universitas Swasta. Selain biayanya mahal, saya belum tentu diterima di sana” Ujar remaja bertinggi badan 175 CM ini. Bagi tunanetra, memang agak sulit jika harus masuk Universitas Swasta. Ada sebagian regulasi universitas yang tidak menerima tunanetra. Sedangkan untuk universitas negeri, asalkan Ia bisa lulus SPMB dan mampu mengikuti pelajaran yang dipilihnya, No problem untuk terus berkuliah di situ.

Akhirnya, pengumuman SPMB menyatakan bahwa Dimas Prasetyo Muharam diterima di Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya untuk Program Studi Sastra Inggris. “Saya pada awalnya hampri tidak percaya dengan hasil ini. Tapi Syukur Alhamdulillah mungkin ini memang jalan terbaik yang dipilihkan Allah untuk saya” kenang Dimas saat pertama membaca hasil SPMB dari internet. Semua impiannya jadi kenyataan. Sebelum menjadi seorang tunanetra, salah satu target sekolahnya dalah Universitas Indonesia. Akhirnya hanya itu yang didapatkannya setelah bersekolah di SMP dan SMA yang tidak ada sama sekali dalam rencananya sebelumnya. Walaupun Dia merasa sangat bahagia bersekolah di SMP negeri 226 Jakarta dan SMA Negeri 66 Jakarta….